Kamis, 06 Mei 2010

selamat ulang tahun, Gery

Baca ini dulu ya :)


“La, lo dimana? Udah dikos?” Tanya suara di seberang sana.
“Udah, baru nyampe 15 menit yang lalu.”
“Oke, gue jemput sekarang ya.”
“Iya”
Klik. Telepon ditutup. Gue kembali memandangi diri gue sendiri di depan cermin. Bukan untuk berdandan. Hanya memastikan kalo nggak ada yang salah sama penampilan gue. Gue bukan tipe cewe yang sering dandan. Asal rapi aja udah cukup. Setelah merasa cukup, gue bergegas mengunci kamar. Menuju teras. Menunggu seseorang. Tapi setibanya gue di teras, ternyata sudah ada dia sambil tersenyum manis.
“La, ayo!”
“Iya”
Gue mendekat ke dia. Ke Gery.
“Gery, selamat ulang tahun.”
“Ayo buruan udah ditungguin temen-temen.”
Tetap saja. Gery tetap saja cuek. Seakan nggak pernah peduli sama omongan gue. Walau gue tau dia kayak gitu karena dia memang bukan tipe orang yang romantis.

Rumah dia udah ramai sesampainya gue disana. Hari ini hari ulang tahun Gery sekaligus hari pertunangan kakak perempuan Gery dan Raja. Banyak mata yang ngeliatin gue saat gue masuk ke halaman belakang tempat pesta berlangsung. Semua orang udah mengira gue itu cewenya Gery. Padahal gue nggak jadian sama dia. Dan Gery pun nggak pernah sekalipun ngomong saying ke gue. Walaupun dia memang selalu nunjukin tingkah laku yang selalu ngejaga gue dan bikin gue selalu ngerasa nyaman.

Pemotongan kue dimulai. Gue berharap potongan pertama buat gue. Tapi Gery lebih memilih memberikan itu kepada kakak perempuannya. Okelah, gue dapet potongan ketiga setelah ibunya. Handphone gue berdering setelah gue menerima kue itu.
“La, kamu masih di rumah Gery?” tanya Mama.
“Masih Ma, kenapa?
“Kamu bisa pulang sekarang nggak? Mama sama Papa harus pergi, ada janji sama rekan bisnis Papa. Kamu pulang temenin adek kamu.”
“Oo, iya Ma. Sebentar lagi Lila pulang.”
Gue menghampiri Gery yang sedang asik bercanda bersama kakak perempuannya.
“Gery, boleh ngomong sebentar?”
“Oke.” Jawab Gery sambil ngikutin langkah gue ke sudut ruangan.
“Kenapa La?”
“Gue musti pulang, Papa sama Mama mau pergi, jadi gue musti nemenin adek gue di rumah.”
“Oke, tunggu sebentar disini. Jangan kemana-mana!”
Gery ninggalin gue sebelum gue sempet menjawab. Dengan terpaksa gue menunggu disitu. Tiba-tiba gue ngeliat Raja ngobrol sama cewenya nggak jauh dari tempat gue berdiri. Raja makin dingin sama gue. Dia makin jarang mau ngobrol sama gue. Hari inipun, nggak sepatah katapun dia ucapin ke gue. Gue bener-bener nggak ngerti apa salah gue sampe dia kaya gini. 

Lima menit kemudian, Gery muncul.
“La, lo pulang dianter Radit, Rendy sama Andre ya!”
“Hah? Nggak usah, gue pulang sendiri aja!”
“Nggak apa-apa, gue udah bilang mereka kok. Mereka juga udah mau.”
“Iya-iya, tapi kenapa musti tiga orang sih?”
“Gue nggak mau lo berduaan aja sama salah seorang diantara mereka.” sahut Gery.
“Tapi gue nggak mau ngrepotin mereka,” tolak gue sambil terbata karena sedikit kaget sama jawaban Gery.
Gery narik tangan gue. Membimbing jalan gue ke halaman depan rumahnya.
“La, ini udah malem. Gue nggak mau lo pulang sendiri. Maaf gue nggak bisa nganterin lo. Gue nggak mungkin ninggalin pesta. Sebentar lagi pertunangannya dimulai.”
“Iya gue ngerti. Maaf y ague jadi bikin repot gini. Titip salam ya buat kakak lo.” Akhirnya gue mengalah.
“Sip, ntar gue sampein.”
“Oiya, selamat ulang tahun Gery.” 
“Makasih ya La.”
“Gue pulang dulu Ry.”
Gery mengawasi saat gue naik ke motor Rendy. Dan tanpa gue sadari, ternyata dia tetap ngawasin gue sampai gue hilang dari pandangan.



2 komentar:

dv mengatakan...

dianterin bertiga kirain neak mbem, ternyata naek motor toh :D

kristiyana shinta mengatakan...

melelehhhh ku :P

Poskan Komentar

feel free to comment, fellas :)