Silahkan baca chapter sebelumnya dulu :)
- Chapter 1. Demi Sahabat
- Chapter 2. Tamu Tak Diundang
- Chapter 3. What's wrong, brother?
- Chapter 4. Di Pantai Itu
- Chapter 5. Dalam Sebuah Pelukan
- Chapter 6. Selamat Ulang Tahun, Gery
- Chapter 7. Berita Tak Terduga
Udah seminggu sejak percakapan di kamar Cahya. Tak ada tanda apapun dari Gery. Udah tiga kali gue jalan bareng sama dia seminggu ini. Tapi tak sepatahkatapun dia ceritain tentang pertemuannya dengan Widi.
Dua minggu pun berlalu. Gery mulai aneh. Dia udah jarang main ke kosan. Sms pun hanya sesekali. Gue cuma bisa nanyain kabar dia lewat Rinda. Rinda bilang dia tampak baik-baik aja saat di sekolah. Gue bingung. Mencari apa yang salah sampai dia jarang nemuin gue lagi.
Sebulan tak terasa. Gery menghilang. Gue cuma bisa nangis. Berpuluh-puluh kali gue mencoba nelpon dia, tapi gue nggak pernah sanggup. Emang gue ini siapa? Gue bukan pacar dia. Gue nggak punya hak buat minta dia nemenin gue.
Dua bulan sudah. Gue bener-bener kehilangan Gery. Gue baru sadar. Mungkin dia emang nggak pernah sayang sama gue. Mungkin dia udah balik lagi sama Widi. Emang siapa gue kalo dibandingin sama Widi? Yah mungkin kebersamaan gue sama Gery selama tujuh bulan ini nggak pernah sebanding sama empat tahun dia bersama Widi.
Tiba-tiba Raja mulai nyapa gue lagi. Kenapa semuanya jadi aneh? Setiap gue tanya kenapa kemaren dia benci sama gue, dia bilang karena dia nggak suka gue deket sama Gery. Ahh benar-benar dua saudara yang aneh. Kenapa saat satu mendekat, yang satu menjauh? Tak bisakah kalian berdua bersahabat sama gue? Jika itu memang lebih baik, gue nggak akan meminta lebih dari Gery. Dan Gery, kemana lo sekarang? Katakan jika memang ada yang salah sama gue. Jangan menghilang seperti ini.
Setahun pun berlalu. Gery bener-bener hilang dari hidup gue. Tapi temen-temennya bilang dia nggak balikan sama Widi. Terus kenapa dia menjauh dari gue?
Tiga tahun kemudian. Gue ketemu Gery. Dia tampak masih seperti dulu. Pertemuan gue sama dia nggak berlangsung lama. Tapi entah mengapa, itu bener-bener membekas di hati gue. Sejak saat itu, gue sering komunikasi lagi sama dia. Kita sering telpon-telponan karena sekarang kita terpisah di kota yang berbeda.
Gery, lagi sibuk nggak? pengen curhat doong.
Sebuah sms gue kirim malem itu.
Tiba-tiba handphone gue berdering. Bukan sms. Tapi telpon. Dari Gery.
“Halo.” sapa gue.
“Halo La, kenapa?”
“Nggak apa-apa pengen curhat aja. Lo lagi sibuk nggak?”
“Nggak kok, mau cerita apa? Gue dengerin.”
“Tentang cowo gue, Ry”
“Kenapa lagi dia? Bikin lo sedih mulu deh kerjaannya.”
“Gue ngerasa dia ada main sama cewe lain.” papar gue sambil sedikit terisak.
“La, gue boleh ke Bandung?”
“Ngapain?”
“Pengen ketemu sama cowo lo,”
“Lah, buat apa?”
“Gue mau nonjok dia.”
**
Seminggu kemudian gue putus. Cowo gue beneran selingkuh. Gue cuma bisa nangis saat itu. Sebulan gue masih stuck disitu. Berpuluh-puluh sms masuk nggak pernah gue bales. Gue males rasanya berhubungan sama orang. Hingga suatu hari, Gery menelepon.
“La, apa kabar?”
“Baik,”
“Sombong banget ya lo gue sms nggak mau bales. Gue mintain tolong juga nggak pernah dibales. Jahat deh lo.”
“Iya maaf..” jawab gue pendek.
“Nggak gue maafin.”
“Ko gitu sihh, maaf Ry, gue kemaren beneran lagi desperate.”
“Gue maafin tapi ada syaratnya.”
“Apa?”
“Lo jadi pacar gue.”
Gue tersentak. Diem. Gak tau musti menjawab apa.
“Nggak mau ya?” Gery memecah keheningan.
“Jangan bercanda kaya gini deh Ry.”
“Gue nggak bercanda, tapi kalo emang ngggak mau juga nggak apa-apa.”
“Gue nggak percaya Geryyyyy..”
“Iya-iya udah lupain aja. Eh, udah malem La, mendingan lo tidur dehh”
“Iya, met malem ry.”
“Jaga diri baik-baik ya La. Bye.”
Gery langung menutup telepon. Dada gue sesak. Gue baru sadar gue masih menyimpan rasa buat Gery. Air mata tiba-tiba mengalir. Gue pengen banget menjawab ya, tapi gue nggak tau kenapa bibir terasa terkunci.
Setelah malam itu, Gery mulai menghilang lagi. Sms dari gue hanya sesekali dibales. Dan sekarang, handphone dia nggak bisa dihubungi.
Lo kemana Gery?
Please don’t do this to me again. Tell me. Tell me how to keep in touch with you..
P.S. akan lebih menyakitkan saat kita kehilangan sebuah cinta, yang TAK PERNAH SEKALIPUN DIUCAPKAN, tetapi diwujudkan dalam setiap tindakan, daripada sebuah cinta yang terlalu sering diucapkan tetapi tak kunjung diwujudkan.
Pernahkah kalian merasakan, mencintai seseorang yang mencintaimu juga, tetapi ada sebuah tembok yang menghalangi kalian, yang bahkan kalian sebenarnya tak tau tembok itu terbuat dari apa. Tetapi saat kalian terus maju untuk bersama, tembok itu makin nyata menghalangi kalian, tetapi tetap tak terlihat sebenernya tembok apakah yang menghalangi kalian itu.









6 komentar:
wah endingnya ngena bgt nin..
bener bgt "akan lebih menyakitkan saat kita kehilangan sebuah cinta, yang TAK PERNAH SEKALIPUN DIUCAPKAN"..
makany jgn gitu lgi
wkwkwkwk
pisss
bikin yg lain lgi nin
he
@ririn
iyaaa bangeeet
haha yang lain nati tunggu inspirasi yaa :)
waduh...waduh.. mengharukan. Hayo sinau sing sregep !!
hmmhh ko sedih siihh ku pikir bakal jadi sama gery,,, aq sebel kalo hrs ada yang meninggal kan spt itu,, huhuhu,,,
:)
ehehe, shinta sama kayak temenku deh yang ga suka sad ending :D
wah nin,
ni Gery yg asli hrs baca ni ceritanya
wkwkwkwk
^^V
Poskan Komentar
feel free to comment, fellas :)